Sangrama-Vijayottunggawarman

Sri Maharaja Sangrama-Vijayottungga Warmadewa atau Sangrama-Vijayottunggawarman merupakan seorang maharaja Sriwijaya, dan dianggap raja Sriwijaya yang berdaulat terakhir atas wilayahnya.

Biogragfi
Nama Sangrama-Vijayottunggawarman diketahui berdasarkan prasasti Tanjore berangka tahun 1030 pada candi Rajaraja, Tanjore, selatan India. Prasasti itu dikeluarkan pada masa Rajendra Chola I, raja dari dinasti Chola. Pada masa ini Sriwijaya telah beribukota di Kadaram (Kedah sekarang)
( id.wikipedia)

Sri Mara-Wijayottunggawarman

Sri Maharaja Mara-Wijayottungga Warmadewa atau Sri Mara-Wijayottunggawarman merupakan seorang maharaja Sriwijaya, yang namanya dikenal dalam kronik Tiongkok sebagai Se-li-ma-la-pi.

Biogragfi
Dalam prasasti Leiden disebutkan raja Sriwijaya, Sri Mara-Wijayottunggawarman putra Sri Cudamani Warmadewa di Kataha telah membangun sebuah vihara yang dinamakan dengan Vihara Culamanivarmma. Kemudian berdasarkan kronik Tiongkok diketahui raja San-fo-ts'i yang bernama Se-li-ma-la-pi mengirimkan utusan ke Cina tahun 1008, dan raja ini dirujuk kepada Sri Mara-Vijayottunggawarman ( id.wikipedia)

Sri Cudamani Warmadewa

Sri Maharaja Cudamani Warmadewa merupakan salah seorang maharaja Sriwijaya, yang namanya dikenal dalam kronik Tiongkok sebagai Se-li-chu-la-wu-ni-fu-ma-tian-hwa.

Biografi
Atiśa, seorang sarjana Buddha asal Benggala yang berperan dalam mengembangkan Buddha Vajrayana di Tibet, dalam kertas kerjanya Durbodhāloka menyebutkan bahwa karyanya tersebut dituliskan pada masa pemerintahan Sri Cudamanivarmadeva penguasa Sriwijayanagara di Malayagiri di Suvarnadvipa, sekitar akhir abad ke-10. Pada tahun 1003, Sri Cudamani Warmadewa mendedikasikan sebuah candi untuk dipersembahkan kepada kaisar Cina yang dinamakan cheng tien wan shou (Candi Bungsu, salah satu bagian dari candi yang terletak di Muara Takus). Kemudian namanya juga didedikasikan untuk sebuah

Balaputradewa

Sri Maharaja Balaputradewa adalah anggota Wangsa Sailendra yang menjadi raja Kerajaan Sriwijaya

Asal-Usul
Menurut prasasti Nalanda, Balaputradewa adalah cucu seorang raja Jawa yang dijuluki Wirawairimathana (penumpas musuh perwira). Julukan kakeknya ini mirip dengan Wairiwarawimardana alias Dharanindra dalam prasasti Kelurak. Dengan kata lain, Balaputradewa merupakan cucu Dharanindra. Ayah Balaputradewa bernama Samaragrawira, sedangkan ibunya bernama Dewi Tara putri Sri Dharmasetu dari Wangsa Soma. Prasasti Nalanda sendiri menunjukkan adanya persahabatan antara Balaputradewa dengan Dewapaladewa raja dari India, yaitu dengan ditandai pembangunan wihara yang diprakarsai oleh Balaputradewa di wilayah Benggala.